Hiu Viral Mengecoh Petugas, Kembali Masuk Kanal Lewat Bawah Jaring

Hiu Viral Mengecoh Petugas, Kembali Masuk Kanal Lewat Bawah Jaring

Zoonestify – Hiu viral kembali masuk kanal di Busan, Korea Selatan, setelah sebelumnya berhasil diarahkan menuju perairan terbuka. Hiu yang mendapat julukan Bukang-i itu kembali mengejutkan petugas karena mampu melewati penghalang yang dipasang di sekitar pintu kanal. Alih-alih menjauh menuju laut, Bukang-i justru terus berada di sekitar jalur masuk kanal. Kemudian, pada malam hari, hiu tersebut menyelam dan melewati bagian bawah jaring luar. Akibatnya, pada pagi 22 Oktober 2026, petugas kembali menemukan Bukang-i di area antara jaring luar dan jaring dalam kanal. Peristiwa ini langsung menarik perhatian karena operasi sebelumnya sempat memberikan harapan bahwa perjalanan panjang Bukang-i di kanal akan segera berakhir. Namun, perilaku satwa liar memang sulit diprediksi. Kejadian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penghalang fisik belum tentu cukup untuk mengendalikan pergerakan hiu di lingkungan perairan terbuka.

Baca Juga: Platipus Bertelur tetapi Menyusui, Mengapa Bisa Terjadi?

Sempat Berhasil Diarahkan Menuju Laut Terbuka

Sebelum kembali masuk, Bukang-i sebenarnya telah melewati proses penggiringan yang cukup panjang. Pada 21 Oktober, petugas melakukan operasi ketiga untuk mengarahkan hiu tersebut keluar dari kanal buatan di kawasan North Port Waterfront Park. Sekitar pukul 18.00 waktu setempat, Bukang-i akhirnya bergerak keluar dari kanal. Namun, situasi belum benar-benar selesai. Setelah berada di luar, hiu tersebut dilaporkan terus berputar di sekitar pintu masuk kanal. Petugas kemudian memasang jaring di bagian luar dan dalam untuk mencegahnya kembali. Jarak antara kedua penghalang tersebut sekitar 30 hingga 40 meter. Strategi itu terlihat masuk akal karena memberikan lapisan perlindungan tambahan. Meski demikian, Bukang-i menunjukkan bahwa perilaku satwa laut tidak selalu mengikuti skenario manusia. Pada akhirnya, hiu itu menemukan jalur melalui bagian bawah jaring luar dan kembali mendekati kanal yang sebelumnya ditempatinya.

Bukang-i Menyelam di Bawah Jaring Penghalang

Cara Bukang-i melewati penghalang menjadi bagian paling menarik dari kejadian ini. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea Selatan, hiu tersebut menyelam di bawah jaring yang dipasang di luar kanal. Setelah itu, Bukang-i berada di area antara jaring luar dan jaring dalam. Kejadian tersebut memperlihatkan tantangan besar ketika petugas menggunakan jaring pada lingkungan perairan yang memiliki kedalaman serta kondisi dasar berbeda-beda. Penghalang tidak hanya perlu membentang secara horizontal. Kedalamannya juga harus diperhitungkan agar satwa tidak dapat berenang melewati bagian bawah. Oleh karena itu, pihak berwenang berencana memperkuat kedalaman jaring sambil terus memantau posisi Bukang-i. Selain itu, jaring luar sempat dinaikkan agar hiu mempunyai akses keluar menuju perairan terbuka. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa prioritas petugas tetap mengarahkan satwa kembali ke habitat laut tanpa menggunakan tindakan yang terlalu agresif.

Sudah Lebih dari Sebulan Berada di Perairan Buatan

Kisah Bukang-i sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Hiu tersebut pertama kali menarik perhatian setelah terlihat berada di kanal buatan North Port Waterfront Park pada September 2026. Sejak saat itu, keberadaannya menjadi tontonan sekaligus perhatian masyarakat. Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk mengarahkannya kembali menuju laut. Namun, proses tersebut tidak sederhana. Pada operasi sebelumnya, petugas bahkan menggunakan jaring sepanjang sekitar 50 meter dengan tinggi 6,8 meter. Jaring itu sempat tersangkut di dasar kanal sehingga operasi harus dihentikan. Bukang-i kemudian kembali bergerak ke bagian dalam kanal. Rangkaian kejadian itu memperlihatkan betapa rumitnya menangani satwa laut besar di ruang perairan buatan. Petugas harus mempertimbangkan keselamatan manusia, kondisi satwa, arus air, pasang surut, serta struktur bawah kanal. Karena itu, setiap langkah membutuhkan pengawasan dan penyesuaian secara hati-hati.

Dua Operasi Sebelumnya Juga Menghadapi Kendala

Sebelum operasi ketiga dilakukan, petugas telah mencoba beberapa metode untuk mengarahkan Bukang-i keluar. Pada upaya pertama, tim menggunakan semburan air dari kapal untuk mendorong pergerakan hiu menuju jalur keluar. Namun, Bukang-i berulang kali bergerak di belakang kapal sehingga strategi tersebut tidak memberikan hasil sesuai harapan. Kemudian, operasi kedua menggunakan jaring besar. Sayangnya, penghalang itu tersangkut di dasar kanal. Kondisi tersebut membuat proses penggiringan tidak dapat dilanjutkan secara aman. Petugas akhirnya memasang jaring sekitar 100 meter dari pintu keluar kanal. Akan tetapi, Bukang-i kembali melewati penghalang dan bergerak ke bagian dalam. Dengan demikian, kembalinya hiu setelah operasi ketiga bukan kejadian pertama. Pola tersebut menunjukkan bahwa Bukang-i mampu beradaptasi terhadap perubahan penghalang di sekitarnya, meskipun alasan pasti perilakunya tetap tidak bisa disimpulkan hanya dari pengamatan singkat.

Mengapa Bukang-i Terus Kembali Masih Menjadi Pertanyaan

Salah satu pertanyaan terbesar adalah alasan Bukang-i terus berada di sekitar kanal. Hingga kini, belum ada penjelasan pasti mengenai alasan hiu tersebut kembali setelah berhasil diarahkan keluar. Karena itu, anggapan bahwa Bukang-i sengaja memilih kanal sebagai “rumah” perlu disikapi hati-hati. Satwa laut dapat merespons banyak faktor lingkungan. Arus air, struktur kanal, keberadaan ikan, perubahan pasang, serta orientasi terhadap lingkungan dapat memengaruhi pergerakannya. Namun, tanpa penelitian langsung, faktor tersebut hanya dapat diperlakukan sebagai kemungkinan. Justru di sinilah sisi menarik kisah Bukang-i. Manusia dapat memasang jaring dan merancang jalur keluar, tetapi keputusan pergerakan akhirnya tetap berasal dari perilaku satwa. Dari sudut pandang konservasi, pendekatan yang hati-hati lebih masuk akal dibandingkan tindakan agresif. Tujuannya bukan sekadar mengeluarkan hiu secepat mungkin, melainkan mengarahkannya ke laut dengan risiko cedera dan stres seminimal mungkin.

Petugas Bersiap Memperkuat Kedalaman Jaring

Setelah mengetahui Bukang-i berhasil menyelam melewati bagian bawah jaring, petugas mulai menyesuaikan strategi. Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea Selatan menyatakan kedalaman jaring akan diperkuat. Selain itu, lokasi Bukang-i terus dipantau. Petugas juga berencana menggunakan fasilitas terapung dan jaring untuk kembali mengarahkannya keluar. Langkah tersebut penting karena kejadian sebelumnya menunjukkan bahwa kondisi bawah air menjadi faktor utama. Sebuah jaring mungkin terlihat menutup jalur dari permukaan, tetapi masih dapat menyisakan ruang di bawahnya. Bukang-i rupanya mampu memanfaatkan ruang tersebut. Oleh sebab itu, operasi berikutnya membutuhkan perhatian lebih besar terhadap bentuk dasar kanal dan posisi penghalang. Pengawasan juga perlu dilakukan tanpa menciptakan tekanan berlebihan terhadap satwa. Dengan pendekatan tersebut, petugas mempunyai peluang lebih baik untuk membuka jalur yang jelas menuju laut sekaligus mengurangi kemungkinan Bukang-i kembali masuk.

Kisah Bukang-i Menunjukkan Sulitnya Mengendalikan Satwa Liar

Perjalanan Bukang-i memberi gambaran menarik mengenai hubungan manusia dengan satwa liar di kawasan perkotaan. Infrastruktur modern memang memungkinkan petugas mengatur banyak hal. Namun, alam tidak selalu bergerak sesuai rencana. Bukang-i mampu menghindari kapal, melewati penghalang, lalu kembali mendekati kanal setelah diarahkan keluar. Meski terlihat seperti sedang “mengecoh” petugas, perilaku tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai tindakan sadar untuk mengalahkan manusia. Hiu hanya merespons lingkungan berdasarkan naluri dan informasi yang diterimanya. Dari sisi manusia, kejadian ini justru memberikan pelajaran penting. Operasi penyelamatan satwa besar membutuhkan kesabaran, pemantauan, serta kemampuan mengubah strategi berdasarkan kondisi lapangan. Selain menarik perhatian publik, kisah Bukang-i juga mengingatkan bahwa pertemuan antara satwa liar dan ruang perkotaan dapat menghasilkan situasi yang tidak terduga. Kini, perhatian tertuju pada langkah berikutnya untuk mengarahkannya kembali menuju laut dengan aman.